DOKUMEN II MELIPUTI
1. Program tahunan / semester
2. Perencanaan mingguan
3. Perencanaan harian
4. Penilaian
PROGRAM TAHUNAN & PROGRAM SEMESTER
Merupakan program pembelajaran yang berisi jaringan tema, bidang pengembangan, kompetensi dasar,hasil belajar,indikator, dan alokasi waktu
LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN PROGRAM SEMESTER
1. Mempelajari Kurikulum, kerangka dasar dan standar Kompetensi
2. Menentukan tema
3. Membuat matriks hubungan Kompetensi dasar dengan tema
4. Menetapkan alokasi waktu untuk setiap jaringan tema
Tema Semester I:
1. Diri Sendiri, alokasi waktu 3 Minggu.
2. Lingkunganku, alokasi waktu 4 Minggu.
3. Kebutuhanku, alokasi waktu 4 Minggu.
4. Binatang, alokasi waktu 3 Minggu.
5. Tanaman, alokasi waktu 3 Minggu.
Tema Semester II:
1. Rekreasi, alokasi waktu 4 Minggu.
2. Pekerjaan, alokasi waktu 3 Minggu.
3. Air, Udara, Api, alokasi waktu 2 Minggu.
4. Alat Komunikasi, alokasi waktu 2 Minggu.
5. Tanah Airku, alokasi waktu 3 Minggu.
6. Alam Semesta, alokasi waktu 3 Minggu.
RENCANA KEGIATAN MINGGUAN (RKM) Merupakan penjabaran dari perencanaan semester yang berisi kegiatan-kegiatan dalam rangka mencapai indikator yang telah direncanakan dalam satu minggu sesuai dengan keluasan pembahasan tema dan sub tema
RKM ada 2 bentuk :
A. RKM model pembelajaran berdasar Kelompok
B. RKM model pembelajaran berdasar Minat
Komponen RKM berdasar kelompok
• Tema dan sub tema
• Alokasi waktu
• Aspek pengembangan
• Kegitan per aspek pengembangan
Langkah-langkah pengembangan RKM berdasar kelompok
1. Menjabarkan tema dan merinci sub tema
2. Menjabarkan indikator menjadi kegiatan-kegiatan pada bidang pengembangan dalam program semester
3. Membuat matrik hubungan antar tema, sub tema dengan kegiatan kegiatan
4. Menentukan alokasi waktu untuk setiap RKM
Komponen RKM berdasar minat
• Tema dan sub tema
• Alokasi waktu
• Aspek pengembangan
• Kegitan per aspek pengembangan
Langkah-langkah pengembangan RKM berdasar minat
1. Menjabarkan tema dan merinci sub tema
2. Menjabarkan indikator menjadi kegiatan-kegiatan dan dimasukkan dalam area
3. Membuat matrik hubungan antar tema, sub tema dengan kegiatan kegiatan
4. Menentukan alokasi waktu untuk setiap RKM
RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH) Merupakan penjabaran dari RKM, yang memuat kegiatan-kegiatan pembelajaran, baik yang dilaksanakan secara individual, kelompok, maupun klasikal dalam satu hari.
Source: hand out Penataran Kurikulum Taman Kanak-Kanak di Demak.
Kamis, 24 Maret 2011
Pesantren dan Pendidikan Anti Teror
Pesantren dan Pendidikan Anti Teror tulisan ini bagian dari seri Pendidikan Islam untuk anak muslim
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Pesantren Al Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Karangsuko, Malang
Abu Bakar Baasyir (ABB) ditangkap untuk kedua kalinya pada 9 Agustus 2010 dengan kapasitas sebagai ketua Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang anggotanya konon terlibat dengan aktifitas perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan terorisme Aceh. Penangkapan itu sebenarnya biasa saja. Karena, memang pemerintah sedang giat-giatnya menumpas gerakan teror di Indonesia.
Namun, fakta bahwa ABB juga seorang pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Jawa Tengah patut menjadi kekuatiran kita bersama, para santri dan pengasuh pesantren. Apalagi, ada beberapa alumni ponpes Ngruki yang terbukti terlibat tindakan terorisme, seperti Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan alias Mubarok dan Joni Achmad Fauzan yang dijatuhi hukuman 6 tahun penjara pada April 2006.
Dengan fakta-fakta itu, kalangan luar pesantren mulai beranggapan bahwa pesantren itu identik dengan terorisme. Atau setidaknya simpati pada para teroris. Walaupun citra buruk ini belum begitu meluas, namun ini patut menjadi perhatian kita bersama dan mengambil langkah antisipatif yang diperlukan untuk membersihkan nama pesantren dari segala anggapan yang keliru. Kita tidak ingin
Diversifikasi Pesantren dan Ideologi
Jamhari dan Jajat Burhanudin membagi pesantren menjadi tiga kelompok. Yaitu, pesantren berbasis NU (Nahdlatul Ulama), pesantren modern dan pesantren independen. Dua pesantren jenis pertama adalah pesantren yang sudah umum diketahui. Pesantren berbasis NU adalah pesantren tradisional yang memiliki hubungan organisasional atau kultural dengan NU. Begitu juga dengan pesantren Muhammadiyah yaitu pesantren yang berafiliasi langsung atau tidak langsung dengan ormas Muhammadiyah. Sedang pesantren independen adalah jenis pesantren model baru di Indonesia. Ia adalah pesantren yang didirikan oleh mereka yang langsung atau tidak langsung berafiliasi dengan ajaran Wahabi atau Salafi.
Pesantren berbasis NU adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang jauh dari hingar bingar aktifitas ideologi ekstrim. Secara empiris pesantren-pesantren tipe ini lebih memfokuskan diri pada program pendidikan. Baik program pengajian kitab kuning klasik, madrasah diniyah maupun pendidikan formal. Materi kurikulum keagamaannya pun tidak jauh dari fiqh, nahwu/sharaf, tauhid, tasawwuf dan Quran hadits.
Pesantren berbasis Muhammadiyah (MD) juga tidak jauh berbeda dengan pesantren NU. Walapun pendirian organisasi Muhammadiyah itu sendiri terinspirasi oleh ajaran pembaharuannya Ibnu Abdul Wahhab, namun Muhammadiyah boleh dikatakan sebagai “Wahabi versi lunak.” Yang tema utama dalam berkonfrontasi dengan orang NU hanya seputar tahlil, talqin, ziarah kubur dan jumlah rakaat tarawih.
Hal ini berbeda dengan pesantren tipe ketiga yang berada di bawah kendali kalangan Salafi. Salafi adalah gerakan paling ektrim di antara gerakan-gerakan Islam yang terinspirasi ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792), yang dikenal juga dengan gerakan Wahabisme.
Ideologi Takfir Salafi
Salah satu doktrin yang menyesatkan dari Salafi atau Wahabisme adalah ideologi takfir.Yakni, keyakinan yang menganggap bahwa orang muslim yang tidak seide dengan dirinya dianggap kafir dan halal untuk dibunuh. Doktrin ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Ibnu Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi untuk menyerang dan membunuh suku-suku lain untuk tujuan mendirikan negara Arab Saudi. Ideologi takfir ini menjadi pemicu masih hidup dan bertahannya terorisme di Indonesia.
Ideologi takfir dari Muhammad Ibnu Abdul Wahhab tertuang jelas dalam salah satu karyanya Kasyfu asy-Sybubuha.t. Kitab ini sarat dengan doktrin pengafiran atas kaum muslimin selain kelompok Wahhabi (yang tunduk menerima ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb). Ia telah mengkategorikan banyak hal yang bukan syirik ke dalam daftar kesyirikan. Dan atas dasar itu ia mengafirkann dan menvonis musyrik selain kelompoknya.
Dalam buku kecil itu, Ibnu Abdil Wahhâb telah menyebut umat Islam, seluruh umat Islam, baik awam maupun ulamanya dari berbagai madzhab dan golongan selain kelompoknya dengan sebutan musyrikin, kafir, syaitan, penyembah berhala, munafikun, dan lain-lain. Konsekuensi dari doktrin ini dipakai oleh kalarangan teroris yang membunuh sesama muslim dengan tanpa merasa berdosa.
Ideologi intoleransi dan sangat mengancam kerukunan antar umat Islam ini semakin berbahaya karena ajaran Salafi ini ditunjang oleh dana besar dari pemerintah Arab Saudi untuk disebarkan ke berbagai negara Islam di seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Penyebaran ajaran Wahabi ini umumnya melalui lulusan universitas-universitas Arab Saudi seperti Jamiah Ummul Quro, Universitas Islam Madinah, Universitas King Saud, atau perguruan tinggi luar Arab Saudi yang mendapat subsidi dari pemerintah Arab Saudi seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta.
Penyebaran doktrin Wahabi selain melalui pesantren mereka, juga melalui khotbah Jum’at, dan ceramah di masjid dan musholla yang sudah mereka “kuasai.”
Respons Pesantren NU
Walaupun sudah jelas bahwa doktrin terorisme dan ajaran Islam garis keras bukan berasal dari pesantren NU dan bahwa pesantren NU selalu menganut ajaran Islam yang moderat (wasath), akan tetapi adalah kurang tepat apabila santri dan kyai pesantren NU tinggal diam terhadap fenomena radikalisasi ini. Pesantren harus memberi respons antisipatif guna mengkonter laju gerakan mereka, memelihara keharmonisan antar-golongan umat Islam dan menjaga nama baik pesantren.
Pertama, tidak membolehkan apalagi mengundang mubalig atau khatib Jum’at kalangan yang dicurigai terpengaruh doktrin Wahabi. Dan menolak tokoh atau organisasi yang menganjurkan kekerasan antar umat Islam.
Kedua, tidak membiarkan kalangan ini menguasai masjid dan mushola milik NU.
Ketiga, membuat pernyataan yang jelas dan tegas baik secara lisan maupun tulisan bahwa pesantren kita adalah penganut ahlussunnah wal jama’ah yang sangat menghormati perbedaan pendapat, mengakui adanya variasi golongan dalam internal umat; dan karena itu sangat tidak setuju pada kelompok gerakan Islam yang tidak toleran apalagi yang menyerukan kekerasan dan terorisme sebagai jihad.
Keempat, menjadikan sikap toleransli dan anti-teror sebagai kurikulum wajib di madrasah diniyah atau sekolah formal (apabila ada).
Kelima, tidak melindungi mereka yang diduga terlibat dalam gerakan terorisme. Bukan hanya itu, kalau perlu melaporkan mereka apabila diketahui bersembunyi dari pengejaran aparat atau diketahui melakukan perilaku yang mengarah ke tindakan terorisme.
Saya percaya bahwa ideologi kekerasan tidak memiliki banyak pengikut dan bertahan lama. Akan tetapi, dengan aliran dana yang besar membuat golongan yang kecil itu memiliki semangat besar untuk memperjuangkan ideologinya. Apalagi, satu tindakan terorisme sudah cukup untuk menghancurkan nama baik Islam secara keseluruhan.
Last but not least, kejahatan timbul bukan hanya karena adanya orang yang jahat. Akan tetapi, terkadang disebabkan oleh diamnya orang yang baik.[]
Further reading
Barakat Jassem, Global Jihad: A History of the Jihadi Salafi Movement, I.B.Tauris, London, 2011
Jamal Ma’mur Asmani, “Salafi Radikal, Pesantren, dan Terorisme”, JIL 2003
Jamhari and Jajat Burhanudin, “A Brief Mapping of Islamic Education in Indonesia”, PPIM UIN Jakarta.
Roel Meijer (Editor), Global Salafism: Islam’s New Religious Movement, Columbia University Press, 2009.
Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, Arizona State University, 1999.
Artikel Islami terkait:
Buletin Alkhoirot Periode 2010/2011
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Pesantren Al Khoirot
Ponpes Al-Khoirot Karangsuko, Malang
Abu Bakar Baasyir (ABB) ditangkap untuk kedua kalinya pada 9 Agustus 2010 dengan kapasitas sebagai ketua Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang anggotanya konon terlibat dengan aktifitas perampokan Bank CIMB Niaga Medan dan terorisme Aceh. Penangkapan itu sebenarnya biasa saja. Karena, memang pemerintah sedang giat-giatnya menumpas gerakan teror di Indonesia.
Namun, fakta bahwa ABB juga seorang pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Jawa Tengah patut menjadi kekuatiran kita bersama, para santri dan pengasuh pesantren. Apalagi, ada beberapa alumni ponpes Ngruki yang terbukti terlibat tindakan terorisme, seperti Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan alias Mubarok dan Joni Achmad Fauzan yang dijatuhi hukuman 6 tahun penjara pada April 2006.
Dengan fakta-fakta itu, kalangan luar pesantren mulai beranggapan bahwa pesantren itu identik dengan terorisme. Atau setidaknya simpati pada para teroris. Walaupun citra buruk ini belum begitu meluas, namun ini patut menjadi perhatian kita bersama dan mengambil langkah antisipatif yang diperlukan untuk membersihkan nama pesantren dari segala anggapan yang keliru. Kita tidak ingin
Diversifikasi Pesantren dan Ideologi
Jamhari dan Jajat Burhanudin membagi pesantren menjadi tiga kelompok. Yaitu, pesantren berbasis NU (Nahdlatul Ulama), pesantren modern dan pesantren independen. Dua pesantren jenis pertama adalah pesantren yang sudah umum diketahui. Pesantren berbasis NU adalah pesantren tradisional yang memiliki hubungan organisasional atau kultural dengan NU. Begitu juga dengan pesantren Muhammadiyah yaitu pesantren yang berafiliasi langsung atau tidak langsung dengan ormas Muhammadiyah. Sedang pesantren independen adalah jenis pesantren model baru di Indonesia. Ia adalah pesantren yang didirikan oleh mereka yang langsung atau tidak langsung berafiliasi dengan ajaran Wahabi atau Salafi.
Pesantren berbasis NU adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang jauh dari hingar bingar aktifitas ideologi ekstrim. Secara empiris pesantren-pesantren tipe ini lebih memfokuskan diri pada program pendidikan. Baik program pengajian kitab kuning klasik, madrasah diniyah maupun pendidikan formal. Materi kurikulum keagamaannya pun tidak jauh dari fiqh, nahwu/sharaf, tauhid, tasawwuf dan Quran hadits.
Pesantren berbasis Muhammadiyah (MD) juga tidak jauh berbeda dengan pesantren NU. Walapun pendirian organisasi Muhammadiyah itu sendiri terinspirasi oleh ajaran pembaharuannya Ibnu Abdul Wahhab, namun Muhammadiyah boleh dikatakan sebagai “Wahabi versi lunak.” Yang tema utama dalam berkonfrontasi dengan orang NU hanya seputar tahlil, talqin, ziarah kubur dan jumlah rakaat tarawih.
Hal ini berbeda dengan pesantren tipe ketiga yang berada di bawah kendali kalangan Salafi. Salafi adalah gerakan paling ektrim di antara gerakan-gerakan Islam yang terinspirasi ajaran Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792), yang dikenal juga dengan gerakan Wahabisme.
Ideologi Takfir Salafi
Salah satu doktrin yang menyesatkan dari Salafi atau Wahabisme adalah ideologi takfir.Yakni, keyakinan yang menganggap bahwa orang muslim yang tidak seide dengan dirinya dianggap kafir dan halal untuk dibunuh. Doktrin ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Ibnu Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi untuk menyerang dan membunuh suku-suku lain untuk tujuan mendirikan negara Arab Saudi. Ideologi takfir ini menjadi pemicu masih hidup dan bertahannya terorisme di Indonesia.
Ideologi takfir dari Muhammad Ibnu Abdul Wahhab tertuang jelas dalam salah satu karyanya Kasyfu asy-Sybubuha.t. Kitab ini sarat dengan doktrin pengafiran atas kaum muslimin selain kelompok Wahhabi (yang tunduk menerima ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb). Ia telah mengkategorikan banyak hal yang bukan syirik ke dalam daftar kesyirikan. Dan atas dasar itu ia mengafirkann dan menvonis musyrik selain kelompoknya.
Dalam buku kecil itu, Ibnu Abdil Wahhâb telah menyebut umat Islam, seluruh umat Islam, baik awam maupun ulamanya dari berbagai madzhab dan golongan selain kelompoknya dengan sebutan musyrikin, kafir, syaitan, penyembah berhala, munafikun, dan lain-lain. Konsekuensi dari doktrin ini dipakai oleh kalarangan teroris yang membunuh sesama muslim dengan tanpa merasa berdosa.
Ideologi intoleransi dan sangat mengancam kerukunan antar umat Islam ini semakin berbahaya karena ajaran Salafi ini ditunjang oleh dana besar dari pemerintah Arab Saudi untuk disebarkan ke berbagai negara Islam di seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Penyebaran ajaran Wahabi ini umumnya melalui lulusan universitas-universitas Arab Saudi seperti Jamiah Ummul Quro, Universitas Islam Madinah, Universitas King Saud, atau perguruan tinggi luar Arab Saudi yang mendapat subsidi dari pemerintah Arab Saudi seperti LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta.
Penyebaran doktrin Wahabi selain melalui pesantren mereka, juga melalui khotbah Jum’at, dan ceramah di masjid dan musholla yang sudah mereka “kuasai.”
Respons Pesantren NU
Walaupun sudah jelas bahwa doktrin terorisme dan ajaran Islam garis keras bukan berasal dari pesantren NU dan bahwa pesantren NU selalu menganut ajaran Islam yang moderat (wasath), akan tetapi adalah kurang tepat apabila santri dan kyai pesantren NU tinggal diam terhadap fenomena radikalisasi ini. Pesantren harus memberi respons antisipatif guna mengkonter laju gerakan mereka, memelihara keharmonisan antar-golongan umat Islam dan menjaga nama baik pesantren.
Pertama, tidak membolehkan apalagi mengundang mubalig atau khatib Jum’at kalangan yang dicurigai terpengaruh doktrin Wahabi. Dan menolak tokoh atau organisasi yang menganjurkan kekerasan antar umat Islam.
Kedua, tidak membiarkan kalangan ini menguasai masjid dan mushola milik NU.
Ketiga, membuat pernyataan yang jelas dan tegas baik secara lisan maupun tulisan bahwa pesantren kita adalah penganut ahlussunnah wal jama’ah yang sangat menghormati perbedaan pendapat, mengakui adanya variasi golongan dalam internal umat; dan karena itu sangat tidak setuju pada kelompok gerakan Islam yang tidak toleran apalagi yang menyerukan kekerasan dan terorisme sebagai jihad.
Keempat, menjadikan sikap toleransli dan anti-teror sebagai kurikulum wajib di madrasah diniyah atau sekolah formal (apabila ada).
Kelima, tidak melindungi mereka yang diduga terlibat dalam gerakan terorisme. Bukan hanya itu, kalau perlu melaporkan mereka apabila diketahui bersembunyi dari pengejaran aparat atau diketahui melakukan perilaku yang mengarah ke tindakan terorisme.
Saya percaya bahwa ideologi kekerasan tidak memiliki banyak pengikut dan bertahan lama. Akan tetapi, dengan aliran dana yang besar membuat golongan yang kecil itu memiliki semangat besar untuk memperjuangkan ideologinya. Apalagi, satu tindakan terorisme sudah cukup untuk menghancurkan nama baik Islam secara keseluruhan.
Last but not least, kejahatan timbul bukan hanya karena adanya orang yang jahat. Akan tetapi, terkadang disebabkan oleh diamnya orang yang baik.[]
Further reading
Barakat Jassem, Global Jihad: A History of the Jihadi Salafi Movement, I.B.Tauris, London, 2011
Jamal Ma’mur Asmani, “Salafi Radikal, Pesantren, dan Terorisme”, JIL 2003
Jamhari and Jajat Burhanudin, “A Brief Mapping of Islamic Education in Indonesia”, PPIM UIN Jakarta.
Roel Meijer (Editor), Global Salafism: Islam’s New Religious Movement, Columbia University Press, 2009.
Zamakhsyari Dhofier, The Pesantren Tradition: The Role of the Kyai in the Maintenance of Traditional Islam in Java, Arizona State University, 1999.
Artikel Islami terkait:
Buletin Alkhoirot Periode 2010/2011
- Filsafat Pendidikan Islam
- Sejarah Sistem Pendidikan Islam
- Ulama Ahli Hadits Perempuan
- Menuju Kebangkitan Islam dengan Pendidikan dan Gemar Membaca
- Pendidikan di Era Keemasan Islam
- Kemunduran Pendidikan Islam
- Pesantren dan Pendidikan Anti-Korupsi
- Pesantren dan Pendidikan Anti Teror
- Memilih Pasangan Secara Islami
- Pendidikan Islam Anak Usia 4 Tahun
- Pendidikan Islam Anak Usia 6 Tahun
- Pendidikan Islam Anak Usia 8 Tahun
- Pendidikan Islam Anak Usia 11 Tahun
- Mencegah Perilaku Feodal Sejak Dini
- Kapan Anak Boleh Punya HP?
- Perlukan Penghargaan dan Sanksi bagi Anak?
- Pendidikan Islam Pranatal (Dalam Kandungan)
- Pendidikan Islam Anak Usia 2 Tahun
- Pendidikan Islam Anak Usia 5 Tahun
- Pendidikan Islam Anak Usia 9 Tahun
- Pendidikan Islam Anak usia 12 Tahun
- Metode Pendidikan Islam
- Membangun Karakter Kepemimpinan Anak
- Belajar Mendidik Anak dari China
- Penghargaan Pada Anak
- Keteladanan Lingkungan
Pendidikan Anak Orang Miskin
Oleh A. Fatih Syuhud
Ditulis untuk Buletin Siswa
Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Al-Khoirot
Kemiskinan adalah pilihan yang sangat tidak menyenangkan. Tidak ada satupun orang yang rela untuk hidup miskin. Semua ingin hidup kaya agar dapat terpenuhi segala kebutuhan hidupnya secara layak terutama kebutuhan dasar. Akan tetapi tidak semua realitas sesuai dengan harapan. Kenyataannya, menurut survei yang diadakan BPS (Biro Pusat Statistik) pada Maret 2009, jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 32,53 juta jiwa atau 14,15 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.
Salah satu masalah mendasar bagi anak yang berasal dari keluarga miskin adalah akses pendidikan. Seperti diketahui, saat ini hampir tidak ada pendidikan yang gratis. Program pemerintah wajib belajar 9 tahun dan adanya BOS (Bantuan Operasional Sekolah) masih belum mampu membuat sekolah gratis total bagi anak didik. Seandainya pun gratis total, memiliki ijazah SMP atau MTs masih jauh dari cukup untuk dijadikan bekal merubah nasib. Padahal, pendidikan sekolah formal merupakan jalan utama menuju perbaikan.
Di tengah suasana yang serba kekurangan dalam segi materi, orang tua hendaknya tetap menjaga sikap optimisme dan menanamkan sikap itu pada anak sejak dini. Optimis dan berani untuk bermimpi besar bahwa kemiskinan, keterbelakangan pendidikan orang tua dan ketidakenakan hidup dapat dirubah apabila terus berusaha. Intinya, walaupun miskin harta tapi tetap harus kaya hati. Yang tak kalah penting adalah meyakinkan anak bahwa perubahan nasib itu harus dimulai dari pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal. Sebagaimana pentingnya pendidikan agama untuk merubah perilaku.
Kegagalan banyak keluarga miskin dalam mendidik anak umumnya disebabkan oleh sikap pesimis orang tua dalam menghadapi hidup. Banyak orang tua miskin menganggap bahwa anak orang miskin akan tetap miskin. Dan bahwa anak yang berasal dari keluarga petani atau buruh akan tetap jadi petani atau buruh, tidak akan jadi pejabat atau ulama, walaupun sudah sekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Tentu saja pemikiran semacam ini salah besar. Dan buruknya lagi, pola pikir fatalistik ini umumnya akan menular pada anak atau setidaknya akan mengurangi semangat anak untuk menjadi lebih baik dari orang tuanya dalam berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, orang tua miskin yang menginginkan anaknya sukses dan bisa lebih baik dari dirinya setidaknya melakukan hal-hal berikut:
Pertama, usahakan menyekolahkan anak setinggi mungkin. Minimal sampai tingkat sarjana S1. Setidaknya, itulah cita-cita orang tua sejak anak baru lahir. Apabila tidak mampu membiayai, carilah lembaga atau yayasan pendidikan yang bersedia memberikan beasiswa bagi anak tidak mampu. Kalau usaha itu gagal, minimal anak itu tahu apa keinginan orang tuanya dan berusaha memenuhinya dengan segala cara.
Kedua, saat menempuh SLTP SLTA idealnya anak ditempatkan di pesantren. Hal ini untuk sejumlah tujuan positif termasuk penanaman perilaku religius, penguasaan ilmu agama dan lingkungan pergaulan yang sehat. Pilih pesantren yang biayanya murah.
Ketiga, konsultasi secara gratis pada orang yang dianggap pintar tentang cara mendidik anak yang baik sejak dini, yakni sejak baru lahir, supaya patuh pada keinginan orang tua. Karena, terlambat atau salah dalam mendidik anak sejak dini dapat menjadi penyebab ketidakpatuhan anak pada cita-cita luhur orang tua.
Keempat, yakinkan dan ulangi berkali-kali setiap ada kesempatan bahwa anak harus menjadi orang yang hebat, yang jauh lebih baik dari orang tua di segala bidang termasuk dalam keilmuan agama, pendidikan formal dan kepemilikan materi. Bahwa anak dapat menjadi seperti siapa saja yang dia inginkan, termasuk jadi presiden, pejabat, guru, dokter, kyai, asal dia betul-betul berusaha untuk mencapainya (QS Ar Ra’d 13: 11)
Kelima, berdoalah khusus untuk anak di setiap selesai salat fardhu. Dan kalau mungkin, setelah salat tahajud. Usaha dan doa yang maksimal adalah dua hal yang tak terpisahkan bagi seorang muslim dalam berupaya menempuh suatu cita-cita luhur.[]
MODEL PENILIAN KELAS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2006
Daftar Isi
Halaman
Bab I PENDAHULUAN 2
A. Latar Belakang 2
B. Tujuan 2
C. Ruang Lingkup 3
D. Sasaran Pengguna Pedoman 3
Bab II KONSEP DASAR PENILAIAN 4
A. Pengertian Penilaian Kelas 4
B. Manfaat Penilaian Kelas 4
C. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas 5
D. Rambu-Rambu Penilaian Kelas 5
Bab III PROSES PENILAIAN
A. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar,
Indikator dan Teknik Penilaian
6
B. Teknik Penilaian 10
C. Cara Penilaian 14
D. Langkah-Langkah Penilaian 14
Bab IV PELAPORAN HASIL PENILAIAN
A. Pengertian 17
B. Bentuk Pelaporan 17
C. Teknik Melaporkan Hasil Penilaian 17
Lampiran 18-30
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan
bahawa Pendidikan Nasional bertujauan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar mejadi manusia yang beriman dan bertakwa keada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Taman Kanak-kanak
(TK) sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan usia dini pada jalur
pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudlatus Athfal (RA)
atau bentuk lain yang sederajat.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi),
membawa implikasi terhadap model pendekatan pembelajaran dan teknik
penilaian. Penilaian terdiri atas penilaian eksternal dan penilaian internal.
Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang
tidak melaksanakan proses pembelajaran dan dilakukan oleh suatu lembaga,
baik dalam maupun luar negeri dimaksudkan antara lain untuk pengendali
mutu. Sedangkan penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan
dilakukan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung untuk
menjaminan mutu pembelajaran.
Penilaian internal (internal assessment) yang dilakukan guru terhadap hasil
belajar anak bertujuan untuk menilai tingkat pencapaian kompetensi anak yang
dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan akhir
pembelajaran.
Penilaian hasil belajar anak dilakukan oleh guru untuk memantau proses,
kemajuan, perkembangan hasil belajar anak sesuai dengan potensi yang dimiliki
dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga
dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan
perencanaan dan proses pembelajaran.
Penyusunan perencanaan, pelaksanaan proses, dan penilaian merupakan
rangkaian program pendidikan yang utuh, dan merupakan satu kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk itu, perlu ada model
penilaian yang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan atau referensi oleh
guru dan penyelenggara TK.
B. Tujuan
Pedoman Penilaian Kelas ini bertujuan untuk :
1. Memberikan orientasi baru tentang Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan kepada pendidik dan tenaga kependidikan.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 3
2. Memberikan wawasan secara umum tentang konsep penilaian yang
dilaksanakan pada tingkat kelas.
3. Memberikan rambu-rambu penilaian kelas.
4. Memberikan prinsip-prinsip pengolahan dan pelaporan hasil penilaian.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup terdiri dari ruang lingkup pedoman dan ruang lingkup penilaian.
Ruang lingkup pedoman ini meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik
penilaian, pengelolaan hasil penilaian, serta pemanfaatan dan pelaporan hasil
penilaian. Sedangkan ruang lingkup penilaian mencakup dua bidang
pengembangan, sebagai berikut:
1. Bidang pengembangan pembiasaan meliputi nilai-nilai agama, moral, sosial
emosional, dan kemandirian.
2. Bidang pengembangan kemampuan dasar meliputi kemampuan berbahasa,
kognitif, fisik/motorik, dan seni.
D. Sasaran Pengguna Pedoman
Pedoman ini diperuntukkan bagi pihak-pihak berikut :
• Para guru di sekolah untuk menyusun program penilaian di kelas.
• Pelaksana pengawas pendidikan (pengawas dan kepala sekolah) untuk
merancang program supervisi pendidikan di sekolah.
• Instansi terkait di daerah yang membuat kebijakan dalam penilaian kelas
yang seharusnya dilakukan di sekolah.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 4
BAB II
KONSEP DASAR PENILAIAN
A. Pengertian Penilaian Kelas
Penilaian adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai
informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan, menyeluruh tentang proses
dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh
anakmelalui pembelajaran dan menginterpretasi informasi tersebut untuk
membuat keputusan-keputusan.
Penilaian dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan
informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar
anak didik, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar anak
didik. Penilaian di Taman Kanak-kanak (TK) dilaksanakan melalui berbagai cara,
seperti penilaian hasil kerja anak melalui kumpulan hasil kerja/karya
anak(portfolio), penilaian produk, penilaian proyek dan penilaian unjuk kerja
(performance) anak didik.
Penilaian tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga di luar kelas secara
formal dan informal, atau dilakukan secara khusus. Penilaian dilakukan secara
terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Data yang diperoleh guru selama
pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur
dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan
dinilai.
B. Manfaat Penilaian Kelas
Manfaat penilaian adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian kompetensi anak yang
berkaitan dengan bidang pengembangan pembiasaan dan bidang
pengembangan kemampuan dasar.
2. Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki program dan
kegiatan pembelajaran.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk melakukan kegiatan bimbingan
terhadap perrtumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menempatkan anak dalam
kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
4. Memberikan informasi kepada orang tua tentang pertumbuhan dan
perkembangan yang telah dicapai oleh anak sebagai bentuk pertanggungjawaban
TK.
5. Sebagai informasi bagi orang tua untuk melaksanakan pendidikan keluarga
yang sesuai dan berkesinambungan dengan proses pembelajaran di TK.
6. Sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak dalam rangka pembinaan
selanjutnya terhadap anak didik.
7. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa
dikembangkan anak.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 5
8. Sebagai alat untuk mendiagnosis dan menentukan perlakuan (treatment)
yang sesuai untuk anak, serta membantu guru menentukan apakah
seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
C. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas
1. Sistematis
Penilaian dilakukan secara teratur dan terprogram dengan baik, dan
dilakukan secara terpadu antara kegiatan belajar mengajar dan penilaian.
2. Menyeluruh
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup semua aspek
perkembangan anak baik moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional,
kemandirian, kognitif, fisik/motorik, bahasa, dan seni. Penilaian harus
menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi
anak, sehingga tergambar profil kompetensi anak
3. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk
memperoleh gambaran tentang pertumbuhan dan perkembangan anak didik
dalam kurun waktu tertentu.
4. Obyektif
Penilaian dilakukan terhadap semua aspek perkembangan sebagaimana
adanya, harus bersifat adil, dan harus mempertimbangkan berbagai
kebutuhan khusus anak.
5. Mendidik
Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi,
mengembangkan dan membina anakagar tumbuh dan berkembang secara
optimal.
6. Kebermaknaan
Hasil penilaian harus mempunyai arti dan bermanfaat bagi guru, orang tua,
anak didik, dan pihak lain.
D. Rambu-Rambu Penilaian Kelas
Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya:
• Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu.
• Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian
sebagai cermin diri.
• Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk
menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar anak.
• Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus anak.
• Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam
pengamatan kegiatan belajar anak.
• Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat
dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk portofolio, unjuk kerja,
proyek, dan tingkah laku.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 6
BAB III
TEKNIK PENILAIAN
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang
perkembangan dan pertumbuhan anak di TK. Teknik mengumpulkan informasi
tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan perkembangan dan
pertumbuhan anak berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikatorindikator
pencapaian hasil belajar yang memuat berbagai aspek perkembangan.
Indikator-indikator pada setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan
untuk melakukan penilaian menggunakan alat dan cara penilaian serta serangkaian
prosedur.
A. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Teknik
Penilaian
Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam
menentukan teknik penilaian.
Berikut Contoh pemetaan berikut ini untuk bidang pengembangan yang ada
pada kelompok A.
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Anak mampu
mengucapkan
doa/lagu-lagu
keagamaan,
meniru gerakan
beribadah dan
mengikuti
aturan, serta
belajar
berperilaku baik
dan sopan bila
diingatkan.
Dapat berdoa
dan
menyanyikan
lagu-lagu
keagamaan
secara
sederhana
Berdoa sebelum dan sesudah
melaksanakan kegiatan
Moral dan
nilai-nilai
Agama,
Sosial,
Emosional
dan
Kemandiri
an
V - V -
Menyanyikan lagu-lagu keagamaan yang
sederhana
V - V -
Anak mampu
berinteraksi
mulai dapat
mengendalikan
emosinya, mulai
menunjukkan
rasa percaya diri
dan mulai dapat
menjaga diri
sendiri
Dapat mengenal
bermacammacam
agama
Menyebutkan tempat-tempat ibadah V - - -
Menyebutkan hari-hari besar agama V - - -
Mengenal
ibadah secara
sederhana
menurut
keyakinannya
Meniru kegiatan ibadah secara sederhana V - V -
Menyebutkan waktu beribadah V - - -
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 7
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Mengenal dan
menyayangi
ciptaan Tuhan
Menyebutkan ciptaan-ciptaan Tuhan.
Misal: manusia, bumi, langit, tananam,
hewan, dll.
V - -
Memiliki sopan
santun
Tidak mengganggu teman yang sedang
melakukan kegiatan/ melaksanakan
ibadah
- -
Meminta tolong dengan baik - -
Mengucapkan salam - - -
Selalu bersikap ramah - - -
Berbahasa
Anak dapat
berkomunikasi
secara lisan,
memiliki
perbendaharaan
kata dan
mengenal
simbol-simbol.
Dapat
mendengarkan
dan
membedakan
bunyi/suara dan
mengucapkanny
a
Menyebutkan berbagai bunyi/suara
tertentu V
Menirukan kembali 3-4 urutan kata V
Menyebutkan kata-kata yang mempunyai
suku kata awal yang sama. Misal kakikali
atau suku kata akhir yang sama.
Misalnya: nama-sama, dll.
V - V
Dapat
mendengarkan
dan memahami
kalimat
sederhana
Melakukan 2-3 perintah secara sederhana V -
Mendengarkan cerita dan menceritakan
kembali isi cerita secara sederhana
V -
Dapat
berkomunikasi/
berbicara
secara lisan
Menyebutkan nama diri, nama orang tua,
jenis kelamin, alamat rumah secara
sederhana
V -
Menceritakan pengalaman/kejadian
secara sederhana
V - -
Menjawab pertanyaan tentang
keterangan/ informasi secara sederhana
V - - -
Memperkaya
kosa kata yang
diperlukan
untuk
berkomunikasi
sehari-hari
meliputi kata
benda, kata
kerja, kata
sifat, kata
keterangan
waktu
Bercerita menggunakan kata ganti aku,
saya.
- - -
Menunjukkan gerakan-gerakan, misalnya:
duduk, jongkok, berlari, makan,
melompat, menangis, senang, sedih, dll.
V - - -
Menyebutkan posisi/keterangan tempat.
Misal: di luar, di dalam, di atas, di bawah,
di depan, di belakang, di kiri, di kanan,
dsb.
V - - -
Menyebutkan waktu (pagi, siang, malam) V - - -
Dapat mengenal
bentuk-bentuk
simbol
sederhana (pra
menulis)
Membuat berbagai macam coretan V - - V
Membuat gambar dan coretan (tulisan)
tentang cerita mengenai gambar yang
dibuatnya
- V - V
Dapat
menceritakan
gambar (pra
membaca)
Bercerita tentang gambar yang
disediakan atau yang dibuat sendiri V - - V
Mengurutkan dan menceritakan isi gambar
seri sederhana (3-4 gambar) V - - -
Menghubungkan gambar/ benda dengan
kata V - - -
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 8
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Mengenal bahwa
ada hubungan
antara bahasa
lisan dengan
tulisan (pra
membaca)
Membaca gambar yang memiliki
kata/kalimat sederhana V - - V
Menceritakan isi buku walaupun tidak
sama tulisan dengan yang diungkapkan V - - V
Menghubungkan tulisan sederhana dengan
simbol yang melambangkannya V V - V
Anak mampu
mengenal dan
memahami
berbagai konsep
sederhana dalam
kehidupan
sehari-hari.
Anak dapat
mengenali
benda di
sekitarnya
menurut
bentuk, jenis
dan ukuran
Mengelompokkan benda dengan berbagai
cara yang diketahui anak. Misalnya:
menurut warna, bentuk, ukuran, jenis,
dll.
Kognitif V - V
Menunjuk sebanyak-banyaknya benda,
hewan, tanaman, yang mempunyai
warna, bentuk ukuran, atau menurut ciriciri
tertentu
v - V
Mengenal kasar-halus, berat-ringan,
panjang-pendek, jauh-dekat, banyak -
sedikit, sama - tidak sama
V
-
V
Memasangkan benda sesuai dengan
pasangannya V V
Anak dapat
mengenal
konsep-konsep
IPA sederhana
Mencoba dan menceritakan apa yang
terjadi jika: warna dicampur, proses
pertumbuhan tanaman (biji-bijian,
umbi-umbian, batang-batangan), balon
ditiup lalu dilepaskan, benda-benda
dimasukkan ke dalam air (terapung,
melayang, tenggelam), benda-benda
yang dijatuhkan (gravitasi), percobaan
dengan magnit, mengamati dengan kaca
pembesar, mencoba dan membedakan
bermacam-macam rasa, bau dan suara
V V
Anak dapat
mengenal
bilangan
Membilang/menyebut urutan bilangan
dari 1 sampai 10 V
Membilang dengan menunjuk benda
(mengenal konsep bilangan dengan
benda-benda) sampai 5
V V
Menunjukkan urutan jumlah benda V
Menghubungkan / memasangkan lambang
bilangan dengan benda-benda sampai 5
(anak tidak disuruh menulis)
V
Menunjuk 2 kumpulan benda yang sama
jumlahnya, yang tidak sama, lebih banyak
dan lebih sedikit
V
Menyebutkan kembali benda-benda yang
baru dilihatnya V
Anak dapat
mengenal
bentuk
geometri
Menyebut dan menunjukkan bentukbentuk
geometri V
Mengelompokkan bentuk-bentuk geometri
(lingkaran, segitiga, segiempat) V V
Menyebutkan dan menunjuk benda-benda
yang berbentuk geometri V
Anak dapat
memecahkan
masalah
sederhana
Mengerjakan “maze” (mencari jejak)
yang sederhana V V
Menyusun kepingan puzzel menjadi
bentuk utuh (4 – 6 keeping) V V
Anak dapat
mengenal
ukuran
Mengukur panjang misal: dengan langkah,
jengkal dan penggaris V
Menimbang benda dengan timbangan
buatan V
Mengisi wadah dengan air, pasir, bijibijian,
beras, dll. V
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 9
Kompetensi
Dasar Hasil
Halaman
Bab I PENDAHULUAN 2
A. Latar Belakang 2
B. Tujuan 2
C. Ruang Lingkup 3
D. Sasaran Pengguna Pedoman 3
Bab II KONSEP DASAR PENILAIAN 4
A. Pengertian Penilaian Kelas 4
B. Manfaat Penilaian Kelas 4
C. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas 5
D. Rambu-Rambu Penilaian Kelas 5
Bab III PROSES PENILAIAN
A. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar,
Indikator dan Teknik Penilaian
6
B. Teknik Penilaian 10
C. Cara Penilaian 14
D. Langkah-Langkah Penilaian 14
Bab IV PELAPORAN HASIL PENILAIAN
A. Pengertian 17
B. Bentuk Pelaporan 17
C. Teknik Melaporkan Hasil Penilaian 17
Lampiran 18-30
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 menyatakan
bahawa Pendidikan Nasional bertujauan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar mejadi manusia yang beriman dan bertakwa keada Tuhan Yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Taman Kanak-kanak
(TK) sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan usia dini pada jalur
pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudlatus Athfal (RA)
atau bentuk lain yang sederajat.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi),
membawa implikasi terhadap model pendekatan pembelajaran dan teknik
penilaian. Penilaian terdiri atas penilaian eksternal dan penilaian internal.
Penilaian eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak lain yang
tidak melaksanakan proses pembelajaran dan dilakukan oleh suatu lembaga,
baik dalam maupun luar negeri dimaksudkan antara lain untuk pengendali
mutu. Sedangkan penilaian internal adalah penilaian yang direncanakan dan
dilakukan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung untuk
menjaminan mutu pembelajaran.
Penilaian internal (internal assessment) yang dilakukan guru terhadap hasil
belajar anak bertujuan untuk menilai tingkat pencapaian kompetensi anak yang
dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan akhir
pembelajaran.
Penilaian hasil belajar anak dilakukan oleh guru untuk memantau proses,
kemajuan, perkembangan hasil belajar anak sesuai dengan potensi yang dimiliki
dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan. Penilaian juga
dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan
perencanaan dan proses pembelajaran.
Penyusunan perencanaan, pelaksanaan proses, dan penilaian merupakan
rangkaian program pendidikan yang utuh, dan merupakan satu kesatuan yang
tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk itu, perlu ada model
penilaian yang dapat dijadikan sebagai salah satu acuan atau referensi oleh
guru dan penyelenggara TK.
B. Tujuan
Pedoman Penilaian Kelas ini bertujuan untuk :
1. Memberikan orientasi baru tentang Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan kepada pendidik dan tenaga kependidikan.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 3
2. Memberikan wawasan secara umum tentang konsep penilaian yang
dilaksanakan pada tingkat kelas.
3. Memberikan rambu-rambu penilaian kelas.
4. Memberikan prinsip-prinsip pengolahan dan pelaporan hasil penilaian.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup terdiri dari ruang lingkup pedoman dan ruang lingkup penilaian.
Ruang lingkup pedoman ini meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik
penilaian, pengelolaan hasil penilaian, serta pemanfaatan dan pelaporan hasil
penilaian. Sedangkan ruang lingkup penilaian mencakup dua bidang
pengembangan, sebagai berikut:
1. Bidang pengembangan pembiasaan meliputi nilai-nilai agama, moral, sosial
emosional, dan kemandirian.
2. Bidang pengembangan kemampuan dasar meliputi kemampuan berbahasa,
kognitif, fisik/motorik, dan seni.
D. Sasaran Pengguna Pedoman
Pedoman ini diperuntukkan bagi pihak-pihak berikut :
• Para guru di sekolah untuk menyusun program penilaian di kelas.
• Pelaksana pengawas pendidikan (pengawas dan kepala sekolah) untuk
merancang program supervisi pendidikan di sekolah.
• Instansi terkait di daerah yang membuat kebijakan dalam penilaian kelas
yang seharusnya dilakukan di sekolah.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 4
BAB II
KONSEP DASAR PENILAIAN
A. Pengertian Penilaian Kelas
Penilaian adalah suatu usaha mengumpulkan dan menafsirkan berbagai
informasi secara sistematis, berkala, berkelanjutan, menyeluruh tentang proses
dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh
anakmelalui pembelajaran dan menginterpretasi informasi tersebut untuk
membuat keputusan-keputusan.
Penilaian dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan
informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar
anak didik, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar anak
didik. Penilaian di Taman Kanak-kanak (TK) dilaksanakan melalui berbagai cara,
seperti penilaian hasil kerja anak melalui kumpulan hasil kerja/karya
anak(portfolio), penilaian produk, penilaian proyek dan penilaian unjuk kerja
(performance) anak didik.
Penilaian tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga di luar kelas secara
formal dan informal, atau dilakukan secara khusus. Penilaian dilakukan secara
terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Data yang diperoleh guru selama
pembelajaran berlangsung dapat dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur
dan alat penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau hasil belajar yang akan
dinilai.
B. Manfaat Penilaian Kelas
Manfaat penilaian adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi tentang tingkat pencapaian kompetensi anak yang
berkaitan dengan bidang pengembangan pembiasaan dan bidang
pengembangan kemampuan dasar.
2. Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki program dan
kegiatan pembelajaran.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk melakukan kegiatan bimbingan
terhadap perrtumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
4. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru untuk menempatkan anak dalam
kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
4. Memberikan informasi kepada orang tua tentang pertumbuhan dan
perkembangan yang telah dicapai oleh anak sebagai bentuk pertanggungjawaban
TK.
5. Sebagai informasi bagi orang tua untuk melaksanakan pendidikan keluarga
yang sesuai dan berkesinambungan dengan proses pembelajaran di TK.
6. Sebagai bahan masukan bagi berbagai pihak dalam rangka pembinaan
selanjutnya terhadap anak didik.
7. Menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa
dikembangkan anak.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 5
8. Sebagai alat untuk mendiagnosis dan menentukan perlakuan (treatment)
yang sesuai untuk anak, serta membantu guru menentukan apakah
seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
C. Prinsip-prinsip Penilaian Kelas
1. Sistematis
Penilaian dilakukan secara teratur dan terprogram dengan baik, dan
dilakukan secara terpadu antara kegiatan belajar mengajar dan penilaian.
2. Menyeluruh
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup semua aspek
perkembangan anak baik moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional,
kemandirian, kognitif, fisik/motorik, bahasa, dan seni. Penilaian harus
menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi
anak, sehingga tergambar profil kompetensi anak
3. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk
memperoleh gambaran tentang pertumbuhan dan perkembangan anak didik
dalam kurun waktu tertentu.
4. Obyektif
Penilaian dilakukan terhadap semua aspek perkembangan sebagaimana
adanya, harus bersifat adil, dan harus mempertimbangkan berbagai
kebutuhan khusus anak.
5. Mendidik
Proses dan hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk memotivasi,
mengembangkan dan membina anakagar tumbuh dan berkembang secara
optimal.
6. Kebermaknaan
Hasil penilaian harus mempunyai arti dan bermanfaat bagi guru, orang tua,
anak didik, dan pihak lain.
D. Rambu-Rambu Penilaian Kelas
Dalam melaksanakan penilaian, guru sebaiknya:
• Memandang penilaian dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu.
• Mengembangkan strategi yang mendorong dan memperkuat penilaian
sebagai cermin diri.
• Melakukan berbagai strategi penilaian di dalam program pengajaran untuk
menyediakan berbagai jenis informasi tentang hasil belajar anak.
• Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus anak.
• Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam
pengamatan kegiatan belajar anak.
• Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi. Penilaian kelas dapat
dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk portofolio, unjuk kerja,
proyek, dan tingkah laku.
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 6
BAB III
TEKNIK PENILAIAN
Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang
perkembangan dan pertumbuhan anak di TK. Teknik mengumpulkan informasi
tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian kemajuan perkembangan dan
pertumbuhan anak berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikatorindikator
pencapaian hasil belajar yang memuat berbagai aspek perkembangan.
Indikator-indikator pada setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan
untuk melakukan penilaian menggunakan alat dan cara penilaian serta serangkaian
prosedur.
A. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Teknik
Penilaian
Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam
menentukan teknik penilaian.
Berikut Contoh pemetaan berikut ini untuk bidang pengembangan yang ada
pada kelompok A.
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Anak mampu
mengucapkan
doa/lagu-lagu
keagamaan,
meniru gerakan
beribadah dan
mengikuti
aturan, serta
belajar
berperilaku baik
dan sopan bila
diingatkan.
Dapat berdoa
dan
menyanyikan
lagu-lagu
keagamaan
secara
sederhana
Berdoa sebelum dan sesudah
melaksanakan kegiatan
Moral dan
nilai-nilai
Agama,
Sosial,
Emosional
dan
Kemandiri
an
V - V -
Menyanyikan lagu-lagu keagamaan yang
sederhana
V - V -
Anak mampu
berinteraksi
mulai dapat
mengendalikan
emosinya, mulai
menunjukkan
rasa percaya diri
dan mulai dapat
menjaga diri
sendiri
Dapat mengenal
bermacammacam
agama
Menyebutkan tempat-tempat ibadah V - - -
Menyebutkan hari-hari besar agama V - - -
Mengenal
ibadah secara
sederhana
menurut
keyakinannya
Meniru kegiatan ibadah secara sederhana V - V -
Menyebutkan waktu beribadah V - - -
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 7
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Mengenal dan
menyayangi
ciptaan Tuhan
Menyebutkan ciptaan-ciptaan Tuhan.
Misal: manusia, bumi, langit, tananam,
hewan, dll.
V - -
Memiliki sopan
santun
Tidak mengganggu teman yang sedang
melakukan kegiatan/ melaksanakan
ibadah
- -
Meminta tolong dengan baik - -
Mengucapkan salam - - -
Selalu bersikap ramah - - -
Berbahasa
Anak dapat
berkomunikasi
secara lisan,
memiliki
perbendaharaan
kata dan
mengenal
simbol-simbol.
Dapat
mendengarkan
dan
membedakan
bunyi/suara dan
mengucapkanny
a
Menyebutkan berbagai bunyi/suara
tertentu V
Menirukan kembali 3-4 urutan kata V
Menyebutkan kata-kata yang mempunyai
suku kata awal yang sama. Misal kakikali
atau suku kata akhir yang sama.
Misalnya: nama-sama, dll.
V - V
Dapat
mendengarkan
dan memahami
kalimat
sederhana
Melakukan 2-3 perintah secara sederhana V -
Mendengarkan cerita dan menceritakan
kembali isi cerita secara sederhana
V -
Dapat
berkomunikasi/
berbicara
secara lisan
Menyebutkan nama diri, nama orang tua,
jenis kelamin, alamat rumah secara
sederhana
V -
Menceritakan pengalaman/kejadian
secara sederhana
V - -
Menjawab pertanyaan tentang
keterangan/ informasi secara sederhana
V - - -
Memperkaya
kosa kata yang
diperlukan
untuk
berkomunikasi
sehari-hari
meliputi kata
benda, kata
kerja, kata
sifat, kata
keterangan
waktu
Bercerita menggunakan kata ganti aku,
saya.
- - -
Menunjukkan gerakan-gerakan, misalnya:
duduk, jongkok, berlari, makan,
melompat, menangis, senang, sedih, dll.
V - - -
Menyebutkan posisi/keterangan tempat.
Misal: di luar, di dalam, di atas, di bawah,
di depan, di belakang, di kiri, di kanan,
dsb.
V - - -
Menyebutkan waktu (pagi, siang, malam) V - - -
Dapat mengenal
bentuk-bentuk
simbol
sederhana (pra
menulis)
Membuat berbagai macam coretan V - - V
Membuat gambar dan coretan (tulisan)
tentang cerita mengenai gambar yang
dibuatnya
- V - V
Dapat
menceritakan
gambar (pra
membaca)
Bercerita tentang gambar yang
disediakan atau yang dibuat sendiri V - - V
Mengurutkan dan menceritakan isi gambar
seri sederhana (3-4 gambar) V - - -
Menghubungkan gambar/ benda dengan
kata V - - -
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 8
Kompetensi
Dasar Hasil Belajar Indikator
Bidang
Pengemba
ngan
Teknik Penilaian
Unjuk kerja
Produk
Perilaku/
sikap
Portofolio
Mengenal bahwa
ada hubungan
antara bahasa
lisan dengan
tulisan (pra
membaca)
Membaca gambar yang memiliki
kata/kalimat sederhana V - - V
Menceritakan isi buku walaupun tidak
sama tulisan dengan yang diungkapkan V - - V
Menghubungkan tulisan sederhana dengan
simbol yang melambangkannya V V - V
Anak mampu
mengenal dan
memahami
berbagai konsep
sederhana dalam
kehidupan
sehari-hari.
Anak dapat
mengenali
benda di
sekitarnya
menurut
bentuk, jenis
dan ukuran
Mengelompokkan benda dengan berbagai
cara yang diketahui anak. Misalnya:
menurut warna, bentuk, ukuran, jenis,
dll.
Kognitif V - V
Menunjuk sebanyak-banyaknya benda,
hewan, tanaman, yang mempunyai
warna, bentuk ukuran, atau menurut ciriciri
tertentu
v - V
Mengenal kasar-halus, berat-ringan,
panjang-pendek, jauh-dekat, banyak -
sedikit, sama - tidak sama
V
-
V
Memasangkan benda sesuai dengan
pasangannya V V
Anak dapat
mengenal
konsep-konsep
IPA sederhana
Mencoba dan menceritakan apa yang
terjadi jika: warna dicampur, proses
pertumbuhan tanaman (biji-bijian,
umbi-umbian, batang-batangan), balon
ditiup lalu dilepaskan, benda-benda
dimasukkan ke dalam air (terapung,
melayang, tenggelam), benda-benda
yang dijatuhkan (gravitasi), percobaan
dengan magnit, mengamati dengan kaca
pembesar, mencoba dan membedakan
bermacam-macam rasa, bau dan suara
V V
Anak dapat
mengenal
bilangan
Membilang/menyebut urutan bilangan
dari 1 sampai 10 V
Membilang dengan menunjuk benda
(mengenal konsep bilangan dengan
benda-benda) sampai 5
V V
Menunjukkan urutan jumlah benda V
Menghubungkan / memasangkan lambang
bilangan dengan benda-benda sampai 5
(anak tidak disuruh menulis)
V
Menunjuk 2 kumpulan benda yang sama
jumlahnya, yang tidak sama, lebih banyak
dan lebih sedikit
V
Menyebutkan kembali benda-benda yang
baru dilihatnya V
Anak dapat
mengenal
bentuk
geometri
Menyebut dan menunjukkan bentukbentuk
geometri V
Mengelompokkan bentuk-bentuk geometri
(lingkaran, segitiga, segiempat) V V
Menyebutkan dan menunjuk benda-benda
yang berbentuk geometri V
Anak dapat
memecahkan
masalah
sederhana
Mengerjakan “maze” (mencari jejak)
yang sederhana V V
Menyusun kepingan puzzel menjadi
bentuk utuh (4 – 6 keeping) V V
Anak dapat
mengenal
ukuran
Mengukur panjang misal: dengan langkah,
jengkal dan penggaris V
Menimbang benda dengan timbangan
buatan V
Mengisi wadah dengan air, pasir, bijibijian,
beras, dll. V
Draf Model Penilaian TK. Bahan Uji Coba.Sept 2006 9
Kompetensi
Dasar Hasil
Langganan:
Postingan (Atom)